Uniknya Adat Istiadat dan Tempat Wisata di Tana Toraja, Sulawesi Selatan

Tana Toraja adalah salah satu tujuan wisata di Sulawesi Selatan yang wajib dikunjungi. Terletak sekitar 8 jam menggunakan jalur darat dari Makassar, tempat wisata Tana Toraja ini memiliki suku dan adat istiadat yang sangat unik.

Budaya dan adat istiadat suku Toraja yang unik telah terdengar sampai ke berbagai belahan dunia. Turis lokal maupun asing berbondong-bondong datang ke Tana Toraja untuk melihat upacara dan situs pemakamannya yang unik.

Sebelum masuk ke tempat wisata mana saja yang menarik untuk dikunjungi di Tana Toraja, mari kita mengenal terlebih dahulu tentang adat istiadat Suku Toraja.

Kegiatan adat istiadat suku Tana Toraja

Asal muasal nama Toraja berasal dari bahasa Bugis yaitu “to riaja” dengan arti “orang yang berdiam di negeri atas”. Suku ini memang hidup di area dataran tinggi dan sebagian besar dulunya bercocok tanam.

Dulunya suku Toraja menganut kepercayaan animisme yang disebut dengan “Aluk Tolodo” yang memiliki arti aturan hidup para leluhur. Barulah pada tahun 1900an, agama Kristen mulai dikenal sejak datangnya misionaris dari Belanda.

Saat ini mayoritas masyarakat Tana Toraja menganut agama Kristen, namun kegiatan adat istiadat tradisionalnya masih terjaga.

Sampai sekarang mereka masih melakukan ritual pemakamam yang dikenal dengan nama upacara adat Rambu Solo.

uniknya kegiatan adat istiadat suku tana toraja

Adapun beberapa kegiatan adat istiadat suku Tana Toraja yang unik adalah: 

1. Upacara Rambu Solo

Upacara Rambu Solo adalah upacara kematian masyarakat yang berasal dari Tana Toraja yang bertujuan untuk menghormati dan mengantarkan arwah orang yang telah meninggal ke alam arwah, atau mengembalikan mereka ke alam baka bersama leluhur di tempat peristirahatan.

Upacara Rambu Solo diadakan besar-besaran dan menghabiskan biaya yang tidak sedikit.

Upacara ini dilaksanakan berdasarkan status sosial masyarakat Toraja yang terbagi 4 strata atau kelas yaitu:

  • Tana’ Bulaan, kasta bangsawan tinggi.
  • Tana’ Bassi, golongan bangsawan menengah.
  • Tana’ Karurung, golongan orang-orang merdeka.
  • Tana’ Kua-kua, golongan hamba atau budak (kaunan).

2. Ma’tinggoro Tedong

Kegiatan adat masyarakat Toraja ini merupakan bagian dari ritual Rambu Solo ini dilaksanakan dengan memotong bagian leher kerbau dengan satu tebasan.

Kerbau-kerbau ini dipercaya sebagai sarana yang membawa arwah ke “Puya” atau kehidupan lain.

3. Ma’nene

Ma’nene adalah upacara adat masyarakat Toraja untuk mengganti pakaian jenazah leluhur. Upacara ini diadakan setiap tiga tahun sekali dan biasanya pada bulan Agustus.

Saat ritual Ma’nene dilakukan, peti mati leluhur akan dikeluarkan dari kuburan batu dan ditempatkan di lokasi upacara.

Tulang dan jenazah yang belum membusuk dibersihkan dengan cara mencucinya lalu mengganti pakaian.

Baca juga: Melihat Kebudayaan Masyarakat Brunei Darussalam 

Cara ke Tana Toraja dari Makassar

Tana Toraja dapat dicapai dengan menggunakan bus dari Makassar. Operator busnya cukup banyak, jadwal keberangkatan juga banyak dari jam 9 pagi sampai 9 malam.

Lama perjalanan dari Makassar menuju Tana Toraja dengan bus kurang lebih memakan waktu sekitar 8 jam. Harga tiket bus berkisar antara Rp 100,000 – 150,000 sekali jalan.

Kondisi bus cukup baik, kursinya nyaman disertai dengan ac. Kamu bisa naik bus dari Jalan Perintis Kemerdekaan atau Terimanal Daya, Makassar.

Beberapa operator bus yang melayani rute Makassar – Tana Toraja adalah:

  • Bus Metro Permai (0411-582734 / 0411-584015)
  • Charisma Transport (0411-580808)
  • Bintang Prima (0411-4772888)

Baca juga: Pengalaman Bertemu dengan Suku Hmong di Sapa, Vietnam

Rekomendasi penginapan di Tana Toraja

Kota Rantepao adalah ibukota dari Kabupaten Toraja Utara. Biasanya bus dari Makassar akan berhenti di Rantepao.

Rantepao merupakan pintuk masuk bagi para wisatawan yang ingin eksplor tempat wisata di sekitar Tana Toraja dan melihat keunikan adat istiadat masyarakat di sana.

Fasilitas di sini juga cukup memadai, ada pusat informasi turis, rumah makan, penyewaan motor, dan juga berbagai jenis akomodasi.

Beberapa rekomendasi penginapan atau akomodasi di Tana Toraja yang bisa kamu pesan lewat aplikasi booking hotel termurah adalah:

  • ManuBackpacker (Rp 140,000/malam)
  • Rosalina Homestay (Rp 250,000/malam)
  • Ne Pakku Manja Family Home (Rp 350,000/malam)

Memulai perjalanan wisata dari Makassar menuju Tanah Toraja

Perjalanan saya dimulai dari Makassar, ditemani oleh seorang teman. Kami terlebih dulu berangkat ke Enrekang karena kebetulan teman saya memang asli orang sana.

Di Enrekang sudah motor yang menunggu, perjalanan pun kami lanjutkan dengan mengendarai motor menuju Rantepao.

Jarak antara Enrekang ke Rantepao masih harus kami tempuh sekitar 3 jam naik motor.

Kadang kala kami berhenti sejenak untuk melihat pemandangan barisan gunung di Buttu Kabobong atau lebih dikenal dengan nama Gunung Nona.

Kabarnya gunung ini diberi nama dengan Gunung Nona karena bentuknya yang erotis, terlihat seperti bagian intim wanita. Lucu rasanya degan imaginasi orang-orang.

Di Sulawesi Selatan banyak gunung-gunung terkenal jika kamu suka mendaki, contohnya Gunung Latimojong dan Gunung Bawakaraeng.

Di Tana Toraja sendiri ada yang namanya Gunung Sesean dengan tinggi 2,100 mdpl.

Banyak pondok kecil berjejer di jalanan menuju Rantepao, cocok sebagai tempat beristirahat sambil minum kopi dan memperbaiki rambut saya yang berantakan akibat tiupan angin.

Baca juga: Menonton Festival Khatulistiwa di Pontianak

pemandangan menuju tana toraja
Pemandangan indah menuju Tana Toraja

Nikmat rasanya melihat hamparan pemandangan yang luar biasa indah di sepanjang jalan. Bukit-bukit hijau yang seakan-akan membisikkan kata “mari lihat saya”. Saking indahnya saya mencoba untuk tidak banyak berkedip.

Sampailah kami di sebuah gerbang dengan tulisan Welcome to Tana Toraja dengan bentuknya yang khusus yang disebut dengan Tongkonan.

Tongkonan adalah rumah tradisional suku Toraja yang memiliki bentuk atap seperti kelana kuda. Kami melewati Makale. Terlihat patung raksasa berdiri dengan megah di tengah kolam.

Patung ini adalah lambang penghormatan kepada salah satu pahlawan yang bernama Pongtiku. Beliau memegang peran yang sangat penting dalam perlawanan terhadap penjajahan Belanda.

Hujan pun turun dengan deras, sayangnya kami tidak membawa jas hujan sehingga kebasahan. Selang beberapa saat, kami pun tiba di penginapan dan beristirahat.

Baca juga: Panduan Lengkap Liburan ke Pulau Wakatobi, Sulawesi Tenggara 

patung pongtiku di makale
Patung Pongtiku

9 Tempat wisata di Tana Toraja yang sangat menarik! 

Hari kedua dan ketiga kami gunakan untuk eksplor sekitar Tana Toraja.

Berikut adalah 9 tempat wisata di Tana Toraja yang sempat kami kunjungi:

1. Kampung Adat Kete Kesu dengan rumah adat Toraja yang disebut dengan tongkonan

Tujuan pertama kami adalah wisata Tana Toraja yang bernama Kampung Adat Kete Kesu dengan jejeran rumah adat masyarakat Toraja yang disebut dengan tongkonan.

Konon rumah-rumah ini berfungsi sebagai tempat perkumpulan para raja dan bangsawan. Saat ini fungsinya lebih ke rumah adat dan juga daya tarik wisata Tana Toraja.

Rumah yang sebagian lainnya berupa lumbung ini terjaga dengan baik. Di bagian depan ada penyangga kayu yang dihiasi dengan tanduk kerbau.

Semakin banyak tanduk kerbau yang dipajang, semakin tinggi pula status dari orang yang punya rumah tersebut. Di salah satu tongkonan di Kete Kesu ini ada juga sebuah museum yang bisa dikunjungi.

Baca juga: Pulau Cangke: Cinta Sejati itu Nyata!

kampung adat kete kesu tana toraja
Tongkonan di Kampung Adat Kete Kesu

Di halaman belakang ada makam gantung yang mungkin bisa ditemukan di daratan Toraja. Makam ini dibuat di dindin atau batu besar. Jangan kaget melihat tulang dan tengkorak berserakan di mana -mana.

Di dalam gua juga ada peti mati, benda-benda lain, dan juga boneka sebagai figur dari para leluhur yang telah wafat, aneh tapi unik.

Harga tiket masuk wisata Kampung Adat Kete Kesu adalah Rp 10,000 (lokal) dan Rp 20,000 (mancanegara).

2. Melihat hasil tenun masyarakat Toraja di Desa Sa’dan

Desa Sa’dan terkenal sebagai pusat kerajinan kain tenun khas Toraja. Di sini kamu bisa mempelajari tentang proses pembuatan kain tenun yang masih menggunakan bahan alami dan peralatan tradisional.

Jenis kain tenun juga bervariasi, ada yang dipakai khusus untuk upacara Rambu Solo, ada juga yang dipakai khusus untuk upacara lain.

Selain itu ada juga tongkonan tua yang kabarnya berusia lebih dari 300 tahun. Terus terang saya semakin tertarik dengan kebudayaan dan adat istiadat Toraja yang menawan.

Harga tiket masuk wisata Desa Sa’dan adalah Rp 10,000 (lokal) dan Rp 20,000 (mancanegara).

tongkonan tua di sa'dan adat istiadat tana toraja
Tongkonan tua di Desa Sa’dan

3. Batutumonga, panorama sawah hijau nan indah di lereng Gunung Sesean

Terasa jalan yang kami lalui semakin berliku dan menanjak ketika menuju area Batutumonga. Tempat wisata di Tana Toraja ini terletak sekitar 24 km dari Rantepao.

Hamparan sawah hijau di lereng gunung menyegarkan mata siapapun yang melihat. Di ketinggian 1,225 mdpl, kamu bisa berhenti sejenak di kedai kopi Tinimbayo untuk mengabadikan pemandangan ini dengan foto.

pemandangan objek wisata batutumonga
Panorama sawah Batutumonga

4. Kuburan batu Toraja, Loko Mata

Masih di area Batutumonga, ada makam suku Toraja bernama Loko Mata yang memiliki keunikan yaitu dipahat di sebuah batu besar. Di dinding batu tersebut ada lobang atau gua dengan ukuran berbeda.

Di setiap gua ini berisi beberapa mayat yang masih memiliki hubungan keluaga. Terlihat beberapa boneka yang berdiam di gua dan juga tongkonan kecil di sekitarnya.

kuburan batu loko mata tempat wisata tana toraja
Kuburan batu Loko Mata

5. Melihat batu megalitikum di situs purbakala Bori Parinding

Malam yang dingin telah berlalu, keesokan hari yang cerah untuk meneruskan perjalanan untuk melihat tempat wisata di Tana Toraja lainnya.

Dengan sepeda motor kami menuju situs purbakala Bori Parinding yang juga merupakan salah satu makam Toraja dan tempat untuk melakukan upacara.

Ratusan batu megalitikum tersebar di situs ini, mewakili pahala yang telah dilakukan di masa lalu oleh leluhur. Saya bertemu dengan dua nenek-nenek yang menjaga tempat ini.

Mereka sangat baik dan ramah. Saya berbincang sejenak untuk mendapat informasi tentang tempat ini. Di area Bori Parinding juga ada tongkonan, area pemakaman, dan kuburan bayi.

Yang unik dari kuburan atau makam bayi ini adalah tubuh dari bayi tersebut dikubur di dalam pohon. Salah satu situs yang juga terkenal sebagai tempat pemakaman bayi adalah Kambira.

Harga tiket masuk Situs Purbakala Bori Parinding adalah Rp 10,000 (lokal) dan Rp 20,000 (mancanegara).

Baca juga: Melihat Komodo di Habitat Aslinya, Labuan Bajo

situs megalitikum bori parinding toraja
Situs pubakala Bori Parinding

6. Londa, pemakaman di dalam gua

Makam Toraja lain yang juga terkenal adalah Londa, berjarak sekitar 5 km arah Selatan dari Kota Rantepao.

Dinding tebal gua ini memiliki ruangan sebagai kuburan orang dengan status lebih tinggi, sedangkan bagi masyarakat biasa dikubur dalam peti mati yang ditaruh di dalam gua.

Rasanya agak merinding gitu ketika memasuki gua yang gelap dengan tulang dan tengkorak yang berserakan. Terbayang di pikiran saya, bagaimana kalau ada sesuatu yang bergerak di dalam peti mati tersebut.

Harga tiket masuk objek wisata Londa: Rp 10,000 (lokal) dan Rp 20,000 (mancanegara). Bawa senter atau cahaya hp untuk masuk ke dalam gua.

7. Objek wisata kuburan batu Lemo

Mirip seperti kuburan batu lainnya, kuburan Lemo juga dipahat di dinding tebing. Bedanya dengan Londa, peti mati tidak disimpan di dalam gua.

Saya suka dengan objek wisata di Tana Toraja ini, rasanya unik dan berbeda. Saya semakin kagum dengan kebudayaan Indonesia, satu negara dengan budaya masing-masing yang sangat unik dan berbeda.

Harga tiket masuk objek wisata Lemo: Rp 10,000 (lokal) dan Rp 20,000 (mancanegara).

kuburan lemo tempat wisata tana toraja
Kuburan Lemo

8. Kerbau-kerbau spesial di Pasar Bolu

Sekilas, Pasar Bolu mirip seperti pasar pada umumnya. Hari biasa pasar ini terlihat normal, namun di Hari Minggu terjadi aktifitas jual beli kerbau hidup di pasar ini.

Kerbau memiliki nilai yang tinggi di adat masyarakat Toraja. Mereka percaya bahwa kerbau dapat membawa roh orang mati ke dunia lain yang disebut dengan Puya.

Semakin banyak kerbau, maka semakin cepat roh tersebut mencapai Puya. Kerbau-kerbau ini biasanya dibunuh dengan golok dan dipersembahkan pada ritual Rambu Solo.

Harga kerbau tergantung dengan umu dan tipe. Kerbau yang memiliki belang lebih mahal dari kerbau yang sekedar berwarna coklat atau hitam.

Kerbau hitam kecil harganya sekitar Rp 5juta, kerbau besar harganya sekitar Rp 15juta, dan kerbau dengan belang yang disebut dengan Tedong Bonga harganya Rp 20-25juta.

Kerbau yang paling langka dan mahal adalah kerbau albino yang harganya bisa mencapai ratusan juta.

kerbau di pasar bolu
Kerbau di Pasar Bolu

9. Rambu Solo, upacara adat kematian khas Tana Toraja

Upacara yang paling dinantikan oleh para wisatawan yang berkunjung ke Tana Toraja yang juga menjadi daya tarik utama daerah ini adalah Rambu Solo.

Dalam adat Toraja, sangat penting untuk menghormati orang atau anggota keluarga yang telah meninggal dengan mengadakan upacara kematian besar-besaran.

Biaya untuk mengadakan upacara Rambu Solo sangat mahal. Karena itu, ketika seseorang meninggal biasanya tidak langsung diadakan upacara, melainkan ditunda beberapa tahun sampai dana untuk melakukan upacara ini terkumpul oleh anggota keluarga.

Bulan Juli – Agustus adalah puncak diadakannya upacara Rambu Solo. Kamu bisa bertanya kepada masyarakat sekitar di mana dan kapan acara ini diadakan.

Sayangnya saya belum sempat menyaksikan upacara ini secara langsung. Mudah-mudahan suatu hari jika saya kembali ke Tana Toraja, saya berkesempatan melihat acara ini.

Tips berkunjung ke wisata Tana Toraja

  • Agar lebih puas keliling tempat wisata di sekitar Tana Toraja, sebaiknya menyewa mobil atau motor. Harga sewa mobil bersama supir sehari biasanya Rp 500,000. Harga sewa motor Rp 70,000/hari, sedangkan harga sewa ojek berkisar di Rp 120,000.
  • Cobalah bertanya terlebih dahulu kepada orang lokal atau pemandu jika ada upacara Rambu Solo.
  • Jaga barang bawaan ketika naik bus malam dari Makassar ke Tana Toraja.
  • Jika kamu ingin sekalian berlibur ke Makassar, silahkan baca itinerary dan panduan liburan ke Makassar yang pernah saya tulis, sekalian juga mungkin bisa ke Pantai Bira yang terletak di bagian Selatan Kota Makassar.

Sekian cerita saya mengunjungi tempat wisata di Tana Toraja dan melihat uniknya adat istiadat suku Toraja. Sepertinya ada juga beberapa objek wisata baru yang bisa kamu kunjungi. Mumpung sudah di Toraja, sekalian lanjut ke atas sampai ke Pulau Togean.

 

One Reply to “Uniknya Adat Istiadat dan Tempat Wisata di Tana Toraja, Sulawesi Selatan”

  1. Jadi pengen main ke Toraja, apalagi sekarang sudah ada patung yang gede itu kan dan sepenasaran sama lantainya yang transparan. Terkahir kesini tuh waktu masih SMA jadi belum ada huhuhuhu.
    Btw ada kontak untuk rental mobil / motor mba?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *